Bank Indonesia Tetap Pertahankan Suku Bunga Acuan 3,5 Persen Selama 7 Bulan

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20-21 September 2021 tetap mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) alias suku bunga acuan sebesar 3,5 persen.

“Memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) alias suku bunga acuan sebesar 3,5 persen. Hal ini sama dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 2,75 persen, dan suku bunga Lending Facility tetap sebesar 4,25 persen,” pungkas Perry saat jumpa pers secara online pada hari Senin, 21 September 2021.

Suku bunga acuan sebesar 3,5 persen sudah ditetapkan oleh BI sejak tanggal 18 Februari 2021 atau sekitar 7 bulan sudah berlangsung tanpa adanya perubahan.

Hal ini juga dikatakan oleh Perry Warjiyo selaku Gubernur Bank Indonesia bahwa keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan juga sistem keuangan nasional, di tengah pra-kiraan inflasi yang rendah dan upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca juga: 8 Ciri-ciri Pinjaman Online Ilegal

Sementara itu, BI juga terus berusaha mengoptimalkan seluruh kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi, mikroekonomi, dan sistem keuangan dan juga mendukung upaya pemulihan perekonomian untuk lebih lanjut.

Perry juga menambahkan bahwa BI akan terus melakukan berbagai langkah strategi kebijakan, diantaranya adalah sebagai berikut melanjutkan kebijakan kebijakan nilai tukar Rupiah agar mampu menjaga stabilitas nilai tukar yang sejalan dengan fundamental dan mekanisme pasar.

Berbagai Macam Strategi Bank Indonesia dalam Memperkuat Perekonomian Nasional

Berbagai Macam Strategi Bank Indonesia dalam Memperkuat Perekonomian Nasional

Selain itu juga, BI juga akan melanjutkan penguatan terhadap strategi operasi moneter guna memperkuat efektivitas stance kebijakan moneter akomodatif. Hingga kini bank sentral nasional itupun juga terus memperkuat kebijakan transparansi terhadap Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) dengan mendalami berbagai pendalaman asesmen transmisi SBDK dan juga SB Kredit baru per jenis kreditnya yang diukur berdasarkan Kelompok Bank tertentu.

Kebijakan lainnya ialah BI mendorong akselerasi perluasan merchant yang menggunakan standar layanan digital yang dimilikinya Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terutama di pasar-pasar, pusat perbelanjaan modern, tempat ibadah, dan para UMKM dan UKM yang tersebar di seluruh wilayah. Agar mampu meningkatkan integrasi ekosistem pergerakan ekonomi dan digitalisasi keuangan di zaman yang serba praktis ini. Juga mendukung kegiatan protokol kesehatan yang saat ini sedang gencar dilakukan di berbagai wilayah di dunia.

Bank Indonesia juga memperkuat dalam koordinasi kebijakan dengan pemerintah pusat terkait pelaksanaan dalam uji coba digitalisasi bantuan sosial (bansos) dan transaksi digital pemerintah dalam mendorong realisasi anggaran belanja pemerintahan.

“Memfasilitasi penyelenggaraan dalam promosi perdagangan dan juga investasi serta melanjutkan sosialisasi penggunaan Local Currency Settlement (LCS) yang bekerja sama dengan instansi yang berkaitan dengan hal tersebut.

Dirinya juga menambahkan, bahwa BI akan terus memperkuat dalam menghadapi sinergi untuk kebijakan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan. Di samping itu juga akan meningkatkan kredit/pembiayaan kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, ekspor, serta inklusi ekonomi dan keuangan.