Tren Bank Digital Berlomba Memberikan Bunga Tinggi

Seperti yang kita ketahui, perang antar bank digital akhir-akhir semakin ketat adanya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan peraturan melalui POJK 12/2021 tentang Bank Umum pada pertengahan bulan Agustus lalu.

Dengan dikeluarkannya ketentuan mengenai bank digital, respon para investor sangat, terbukti dengan peningkatan jumlah harga saham di perdagangan bursa efek. Ketentuan ini juga dinilai mengakomodasi perkembangan digitalisasi di industri perbankan di Indonesia.

Pada awal tahun 2021, industri perbankan di Tanah Air sudah digemborkan dengan kehadiran bank digital. Tepat pada bulan Juni lalu, OJK menyebut beberapa bank ini sudah menyatakan dirinya sebagai bank digital, diantaranya:

  1. Jenius, dari Bank BTPN Indonesia
  2. Wokee, dari Bank Bukopin
  3. TMRW, dari Bank UOB Indonesia
  4. Jago, dari Bank Jago
  5. Digibank, dari Bank DBS Indonesia

Kemudian, aplikasi layanan mobile banking dari MNC Bank yakni MotionBanking resmi meluncur pada Juni 2021. Lalu aplikasi blu by BCA Digital yang resmi dirilis pada 2 Juli lalu. Sejumlah bank lainnya yang dalam proses go digital seperti Bank BRI Agroniaga, Bank Capital, Bank Harda Internasional, Bank QNB Indonesia, dan KEB Hana Bank.

Baca juga: Sah! Kini Bank Jateng Resmi Berkolaborasi dengan RS UNS Surakarta

Sementara itu, Presiden Direktur Utama Bank BCA, Jahja Setiaatmadja mengatakan bahwa hanya akan ada 3 bank digital yang dapat menguasai di Indonesia.

“Jika kita bernostalgia sekitar awal tahun 1990, Indonesia mempunyai sekitar 200 bank, namun tepat pada tahun 1998, terfilterisasi secara alam, jadi sekarang kemungkinan besar hanya 8-9 bank yang dapat menguasai pangsa pasar.” ujar Jahja

“Dengan demikian, saya juga berpikir yang sama bahwa tren bank digital juga akan seperti itu, hanya ada 3 yang mempunyai kekuatan untuk berlanjut” lanjutnya.

Sebagai contoh di Korea Selatan hanya memiliki satu bank digital saja yakni Kakao Bank, dengan capaian pendapatan per kapita sekitar US$33,790 di tahun 2019.

“Selain itu, di Jepang dan Thailand hanya punya satu bank digital dengan pendapatan per kapita yang sangat tinggi. Artinya, at the end of the day (pada akhirnya) si setiap negara itu hanya mempunyai 1 bank digital dengan kekuatan besar dan tidak akan lebih dari 3, itu menurut saya.” tegasnya.

Fokus Bank Digital yakni Menghimpun Dana

Fokus Bank Digital yakni Menghimpun Dana

Salah satu strategi utama bank digital yakni menggenjot penghimpunan dana atau funding. Maka dari itu, tak heran banyak bank digital yang berlomba-lomba memasang strategi menarik nasabah baru untuk menyimpan dana sebanyak mungkin di rekening bank tersebut.

Sebagai contoh, NEO+ aplikasi resmi dari Bank Neo Commerce yang menawarkan bunga simpanan yang sangat tinggi. Di kutip dari akun Instagram resmi Bank Neo Commerce, bank digital tersebut menawarkan sejumlah bunga tabungan sekitar 6 persen per tahun dan bunga simpanan deposito sekitar 8 persen pertahunnya.

Disisi lain, yang tak kalah menarik seperti SeaBank yang merupakan bank digital dari marketplace terbesar se-Asia Tenggara, mengumumkan di aplikasinya bahwa bunga yang dibayarkan secara harian.

Selain itu, SeaBank juga menawarkan gratis biaya transfer antar bank, biaya admin dan juga biaya lainnya khusus pengguna Shopee. Dikarenakan aplikasi SeaBank dapat terhubung langsung dengan e-commerce Shopee.

Sebenarnya bunga simpanan yang ditawarkan oleh para bank digital sudah diatas tingkat bunga yang dijamin oleh Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) di Indonesia.

Menurut Purbaya Yudhi Sadewa selaku Ketua Dewan Komisioner LPS pada Juni lalu mengatakan bahwa simpanan dengan bunga di atas bunga penjaminan sudah tidak dijamin oleh LPS. Maka dari itu, pihak bank harus memberikan kejelasan kepada para nasabahnya terkait hal tersebut.

Ini menyangku resiko yang dialami, dia menambahkan bahwa penawaran bungan simpanan yang terlalu tinggi tidak menyalahi pihak bank, selama bank mampu menjelaskan kepada para nasabahnya terkait resiko itu.

“Karena kalu memang nasabah sudah benar-benar paham bahwa high return itu selalu beriringan dengan high risk seperti halnya berinvestasi, maka dianggap sah-sah saja.” jelasnya.

Meski demikian, pihak LPS terus memantau dan memastikan para bank digital untuk melakukan sosialisasi kepada para nasabahnya terkait resiko tersebut.